Makna Membakar Dupa dalam Doa Lelaku Kejawen: Perspektif Islam Jawa dan Perbandingan Tradisi

Seorang lelaku Jawa berdoa dengan hening, membakar dupa di hadapan sesaji sebagai simbol penghayatan batin, harmoni, dan laku spiritual Kejawen.

M. Aditya Prabowo

1/2/20262 min read

Islam Jawa dan Tradisi Kejawen

Islam yang berkembang di tanah Jawa tidak hadir dalam ruang budaya yang kosong. Proses islamisasi berlangsung melalui dialog dengan tradisi lokal, melahirkan corak keberagamaan khas yang sering disebut Islam Jawa. Dalam konteks ini, praktik seperti membakar dupa tidak selalu dipahami sebagai ritual ibadah formal, melainkan sebagai warisan simbolik budaya yang dimaknai ulang.

Tokoh-tokoh Wali Songo khususnya Sunan Kalijaga dikenal menggunakan pendekatan kultural. Simbol-simbol lama tidak serta-merta dihapus, tetapi diarahkan maknanya agar selaras dengan tauhid. Membakar dupa kemudian diposisikan sebagai wasilah budaya, bukan sebagai sarana memohon selain Allah.

Menurut Islam Jawa, Islam Jawa menekankan batiniah (inner devotion) dan etika spiritual. Dalam kerangka ini, membakar dupa dipahami sebagai sarana membantu kekhusyukan, serupa dengan wewangian yang dianjurkan dalam tradisi Islam untuk menciptakan suasana bersih dan khidmat.

Dupa, Kemenyan, dan Wewangian dalam Islam

Dalam Islam normatif, membakar dupa bukan bagian dari rukun atau syariat ibadah. Namun, penggunaan wewangian memiliki landasan kuat. Rasulullah ﷺ dikenal menyukai aroma harum, dan masjid-masjid pada masa klasik sering diberi dupa atau bukhur untuk menjaga kesucian dan kenyamanan.

Dalam Islam Jawa, pemahaman ini bertransformasi:

  • Dupa tidak disembah

  • Tidak diyakini memiliki kekuatan gaib mandiri

  • Hanya sarana lahiriah untuk menata batin

Hal ini sejalan dengan prinsip niat (niyyah) dalam Islam. Jika niatnya adalah mengingat Allah dan membersihkan hati, maka unsur budaya tidak serta-merta dianggap menyimpang, selama tidak bertentangan dengan tauhid.

Perbandingan dengan Tradisi Lain

1. Hindu dan Buddha

Dalam Hindu dan Buddha, dupa digunakan secara luas sebagai persembahan simbolik. Asap dupa melambangkan ketidakkekalan, pelepasan ego, dan penghormatan kepada yang suci. Praktik ini sangat sistematis dan menjadi bagian integral dari liturgi.

Dalam Kejawen, maknanya lebih cair dan personal—tidak terikat dogma ritual baku.

2. Tradisi Tionghoa

Dalam tradisi Tionghoa, dupa digunakan untuk penghormatan leluhur dan dewa-dewi. Asap dipercaya membawa doa menuju alam atas. Di Jawa, unsur ini berasimilasi, namun diberi tafsir lokal yang lebih menekankan unggah-ungguh (tata krama spiritual), bukan pemujaan literal.

3. Tradisi Kristen Timur

Dalam Gereja Ortodoks dan Katolik Timur, dupa digunakan dalam misa sebagai simbol doa umat yang naik ke hadirat Tuhan. Ini menunjukkan bahwa penggunaan asap dan aroma sebagai simbol spiritual bersifat lintas budaya dan lintas agama.

Posisi Lelaku Kejawen dalam Lanskap Spiritualitas

Bagi para lelaku kejawen, baik yang beridentitas Muslim maupun tidak, membakar dupa adalah bagian dari olah rasa. Dalam Islam Jawa, laku ini ditempatkan di wilayah adat dan tata laku batin, bukan ibadah mahdhah.

Mistik Islam Kejawen Ranggawarsita menegaskan bahwa inti spiritualitas Jawa-Islam adalah kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam diri (manunggaling kawula Gusti dalam makna etis, bukan teologis ekstrem). Dupa hanya alat bantu menuju keheningan, bukan tujuan.

Sintesis Makna

Jika dibandingkan lintas tradisi, dapat disimpulkan bahwa:

  • Membakar dupa adalah bahasa simbol universal umat manusia

  • Islam Jawa memberi penyaringan tauhid terhadap simbol tersebut

  • Kejawen memaknainya sebagai laku budaya-batin, bukan dogma agama

Dengan demikian, konflik antara Islam dan tradisi bukan terletak pada dupanya, melainkan pada niat, keyakinan, dan pemaknaan.

Penutup

Perspektif Islam Jawa menunjukkan bahwa membakar dupa dalam doa lelaku kejawen bukan praktik yang berdiri di luar agama, melainkan hasil dialog panjang antara iman dan budaya. Selama dimaknai sebagai sarana kontemplasi, bukan objek pemujaan, dupa tetap menjadi simbol harmoni—antara lahir dan batin, adat dan iman, manusia dan semesta.